2 Fungsi Utama Visi Bagi Konten
Resume: tos
Beberapa waktu lalu Pak Novan sempat membahas tentang visi dalam salah satu postnya. Post tersebut telah mengingatkan saya akan arti penting sebuah visi, terutama untuk sebuah konten. Pada post kali ini saya juga akan membicarakan tentang visi akan tetapi dalam konteks yang agak berbeda dengan post Pak Novan tersebut.
Seperti biasa, saya tidak tertarik untuk mendefinisikan apakah yang dimaksud dengan visi. Tidak jarang ketika membicarakan tentang definisi visi, misi dan strategi dengan beberapa orang kawan, saya merasa seperti terjebak dan berputar-putar pada sebuah perdebatan yang saya pikir hampir menyerupai “ayam-telur mana yang lebih dulu?” Dalam post ini saya hanya akan mencoba berbagai tentang apa yang saya pahami sebagai visi melalui dua fungsi utamanya.
Dalam salah satu lagu tema film Laskar Pelangi, sebuah film yang didasarkan pada salah satu buku tetralogi fenomenal karya Andrea Hirata, yang juga berjudul Laskar Pelangi, yang dibawakan oleh kelompok band Nidji, ada sebuah bait yang bagi saya amat menggugah, bait tersebut adalah.
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia…
1. Visi Sebagai Bintang Pemandu
Kisah tentang penjelajah, baik yang berupa legenda maupun sejarah, telah lama ada. Kisah-kisah tersebut telah muncul jauh sebelum gps dan berbagai teknologi navigasi mutakhir lainnya ditemukan, lalu bagaimana mereka melakukannya? Para musafir, baik itu penjelajah, pelaut -termasuk nenek moyang kita- dan lainnya, memanfaatkan posisi bintang dengan berbekal ilmu astronomi (ilmu falaq). Columbus, penjelajah tersohor dari Eropa, juga memanfaatkan bintang sebagai pemandu dalam mengarungi samudra Atlantik dalam menemukan “dunia baru”-nya.
Apa yang dapat mereka harapkan dari bintang pemandu? Ya, tentu saja suatu arah ke mana akan menuju. Suatu acuan guna menyesuaikan layar-layar dan sirip kapal dengan arah angin serta arus laut. Sebuah fokus untuk mengoptimalkan kinerja setiap awak kapal serta sebagai pedoman dalam bekerja sama antar mereka.
Begitu pula dengn visi. Visi memberi petunjuk arah kepada seseorang atau organisasi ke mana akan menuju. Suatu petunjuk yang memberi sebuah gambaran masa depan, impian serta pembangkit cita-cita dan inspirasi. Suatu petunjuk penyemangat, yang dapat membuat seseorang melompat dari tempat tidur di pagi hari menyiapkan diri untuk menjalani harinya guna memperjuangkan impian, dan tidak sekedar menempuh hari hanya untuk menunggunya berakhir.
2. Visi Sebagai Pedoman Strategi, Taktik dan Keputusan Strategis Lainnya
Pada post terdahulu (Segmen Hebat Bagi yang Tepat) saya sempat membahas tentang strategi marketing konten web. Post tersebut saya golongkan ke dalam kategori strategi. Untuk ke depan, pada blog ini, saya juga akan membahas berbagai strategi lainnya yang berhubungan dengan konten web. Ketika berbicara tentang strategi, kita berbicara tentang pengetahuan (knowledge). Sejauh yang saya pahami sampai saat ini (ilmu) pengetahuan bersifat netral, dalam artian dapat digunakan untuk kebaikan maupun untuk keburukan (bebas nilai).
Bila anda pernah menyaksikan film American Gangster, sebuah film yang diangkat dari kisah nyata tentang sindikat narkoba di Amerika sekitar tahun akhir 60-an awal 70-an, Anda dapat melihat bahwa penjual narkoba pun berstrategi. Memotong jalur distribusi, melakukan riset pasar dan bereaksi ketika merek (brand) produknynya di ganggu adalah beberapa strategi yang dapat kita pelajari dari film tersebut. Di lain pihak penjual sayuran hasil pertanian organik yang ramah lingkungan serta baik untuk kesehatan juga melakukan hal serupa, lalu apa yang membedakan mereka? Ya, visi dari masing-masing bisnis lah yang membedakan keduanya, karena di dalam sebuah visi selain impian, juga terkandung kearifan, sistem nilai dan ideologi.
Perbedaan atas visi kerap kali terlihat di tataran taktis (cara-cara bertindak yang lebih spesifik dalam mencapai tujuan) yang saya pikir merupakan perpaduan antara kearifan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang atau organisasi. Selalu ada pilihan dalam upaya mencapai suatu tujuan, “main bersih” (white hat), “main kotor” (black hat) atau di antaranya (grey hat).
Kembali ke Konten Hebat
Bila Anda perhatikan tentang ciri-ciri konten hebat pada post Mengapa Hebat? (6 Ciri Konten Hebat), sengaja saya tidak menyebutkan konten yang berisi tentang apa yang tergolong hebat. Pada post tersebut saya hanya berusaha untuk netral dan menjadikan kekuatan pengaruh suatu konten di jagat maya sebagai acuannya. Visi sebuah konten -kearifan, sistem nilai dan ideologi- saya kembalikan ke masing-masing pembuatnya.
Silakan Anda tentukan visi dari konten Anda. Apakah visi tersebut hanyalah sekedar mencari dollar menghalalkan segala cara bahkan sampai bermain-main dengan “tombol insting” pengguna (menebar rayuan gombal dan black campaign, menggunakan trik kotor, menyediakan konten “dewasa” dan lain sebagainya) atau visi yang lebih hebat, yang dapat bermanfaat bagi bannyak orang guna menjadikan kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Untuk memperjelas konsep tentang visi sebuah konten, ke depan saya akan coba mengulas sebuah konten yang saya pikir hebat, bahkan sangat hebat yang berpondasikan visi super hebat [].
Semoga post kali ini dapat bermanfaat bagi Anda. Bila ada yang ingin Anda diskusikan tentang topik terkait, silakan untuk menuliskannya pada kolom komentar di bawah. Jangan lupa untuk berlangganan Feed (RSS), baik melauil feed-reader atau email, sehingga Anda akan segera mendapat informasi tentang update blog ini.
Keteratang.
Sumber gambar: sxc.hu, Temon’s Blog.
Share





02. Jan, 2009 









Penulis